Sabtu, 11 Maret 2017

Sejarah Perekonomian Indonesia

Indonesia adalah negara yang memiliki letak geografis yang sangat strategis, karena berada di antara dua benua (Asia dan Eropa) serta dua samudra (Pasifik dan Hindia), sebuah posisi yang strategis dalam jalur pelayaran perdagangan antar benua. Perdagangan saat itu mengenal sebutan jalur sutra laut, yaitu jarur dari Tiongkok dan Indonesia yang melalui Selat Malaka menuju ke India. Perdagangan laut antara India, Tiongkok, dan Indonesia dimulai pada abad pertama sesudah masehi, demikian juga hubungan Indonesia dengan daerah-daerah di Barat (Kekaisaran Romawi). Perdagangan di masa kerajaan-kerajaan tradisional disebut oleh Van Leur mempunyai sifat kapitalisme politik, dimana pengaruh raja-raja dalam perdagangan itu sangat besar. Misalnya di masa Sriwijaya, saat perdagangan internasional dari Asia Timur ke Asia Barat dan Eropa, mencapai zaman keemasannya. Raja-raja dan para bangsawan mendapatkan kekayaannya dari berbagai upeti dan pajak. Tak ada proteksi terhadap jenis produk tertentu, karena mereka justru diuntungkan oleh banyaknya kapal yang lewat di daerah mereka.

Era Pra-Kolonialisme
Yang dimaksud dengan periode Pra-Kolonialisme adalah masa berdirinya kerajaan di wilayah Nusantara (sekitar abad ke-5) sampai sebelum masa masuknya penjajah yang secara sistematis menguasai kekuatan ekonomi dan politik di wilayah nusantara (sekitar abad ke-15 sampai 19). Pada saat itu NKRI belum berdiri dan Nusantara masih terdiri atas kerajaan-kerajaan.
Indonesia terletak di posisi geografis antara benua Asia dan Eropa serta samudra Pasifik dan Hindia, sebuah posisi yang strategis dalam jalur pelayaran niaga antar benua.  Hal ini di karenakan Indonesia berada di jalur yang menghubungkan antara Indonesia dengan Tiongkok, Indonesia dengan negara Timur Tengah, dan menghubungkan antara Indonesia dengan Eropa.  Hal ini juga membuat perkembangan yang pesat bagi kerajaan–kerajaaan yang ada pada saat itu terutama di sektor perdagangan
Penggunaan uang yang berupa koin emas dan koin perak sudah dikenal di masa itu, namun pemakaian uang baru mulai dikenal di masa kerajaan-kerajaan Islam. Namun penggunaan uang masih terbatas, karena perdagangan barter banyak berlangsung dalam system perdagangan Internasional.
Kejayaan suatu kerajaan pada saat itu dinilai dari luasnya wilayah, penghasilan per tahun, dan ramainya pelabuhan. Kerajaan yang berada di daerah Sumatra memperoleh pendapatan dari sektor perniagaan atau perdagangan, sedangkan Kerajaan yang berada di Pulau Jawa memperoleh pendapatan dari sektor pertanian dan perniagaan atau perdagangan. Kedua sektor inilah yang berpengaruh bagi perkembangan ekonomi di masa itu.
Dengan kata lain, system pemerintahan masih berbentuk feudal. Kegiatan utama perekonomian adalah:
·         Pertanian, misalnya padi di Jawa dan rempah–rempah di Maluku.
·         Eksplorasi hasil alam, misalnya hasil laut, hasil tambang, dll.
·         Perdagangan besar antar pulau dan antar bangsa yang sangat mengandalkan jalur laut

Sistem Monopoli VOC
Kongsi Dagang atau Perusahaan Hindia Timur Belanda (Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC) yang didirikan pada tanggal 20 Maret 1602 adalah persekutuan dagang asal Belanda yang memiliki monopoli untuk aktivitas perdagangan di Asia. 
Meskipun sebenarnya VOC merupakan sebuah persekutuan badan dagang, tetapi badan dagang ini istimewa karena didukung oleh negara dan diberi fasilitas-fasilitas sendiri yang istimewa. Misalnya VOC boleh memiliki tentara dan boleh bernegosiasi dengan negara-negara lain. Bisa dikatakan VOC adalah negara dalam negara.
Tujuan utama VOC adalah mempertahankan monopolinya terhadap perdagangan rempah – rempah di Nusantara. Hal ini dilakukan melalui penggunaan dan ancaman kekerasan terhadap penduduk di kepulauan – kepulauan yang merupakan penghasil rempah – rempah, dan terhadap orang-orang non-Belanda yang mencoba berdagang dengan para penduduk.
Strategi VOC Dalam Menjalankan Monopoli:
·                     Ekstirpasi
             Ekstirpasi adalah hak VOC untuk menebang pohon yang menghasilkan komoditas yang laku di pasaran Eropa agar tidak terjadi over produksi. Ekstirpasi dilakukan oleh VOC sebagai langkah pencegahan agar hasil panen tidak melimpah, sehingga harganya di pasaran Eropa menjadi murah.
·                     Pelayaran Hongi
             Pelayaran Hongi adalah misi pelayaran VOC yang ditugasi mengawasi, menangkap, dan mengambil tindakan terhadap para pedagang dan penduduk pribumi yang dianggapnya melanggar ketentuan perdagangan Belanda.
Kehadiran VOC membawa dampak bagi perekonomian dan perdagangan di Indonesia, diantaranya :
·                     Tumbuhnya kota-kota dagang seperti Banten, Batavia, dan Padang.
·                     Eksploitasi kekayaan alam yang berlebihan
·                     Hancurnya pusat-pusat dan jalur-jalur perdagangan kerajaan Islam di Nusantara
·                     Tumbuhnya perkebunan-perkebunan di Indonesia

Sistem Tanam Paksa
Sistem Tanam Paksa adalah peraturan yang dikeluarkan oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pada tahun 1830 yang mewajibkan setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya (20%) untuk ditanami komoditi ekspor, khususnya kopi, tebu, dan tarum (nila). Hasil tanaman ini akan dijual kepada pemerintah kolonial dengan harga yang sudah dipastikan dan hasil panen diserahkan kepada pemerintah kolonial. Penduduk desa yang tidak memiliki tanah harus bekerja 75 hari dalam setahun (20%) pada kebun-kebun milik pemerintah yang menjadi semacam pajak.
Sejarah Tanam Paksa:
·                      Pada tahun 1830 pada saat pemerintah penjajah hampir bangkrut setelah terlibat perang Jawa terbesar (Perang Diponegoro, 1825-1830), Gubernur Jenderal Judo mendapat izin khusus melaksanakan sistem Tanam Paksa (Cultuur Stelsel) dengan tujuan utama mengisi kas pemerintahan jajahan yang kosong, atau menutup defisit anggaran pemerintah penjajahan.
·                      Sistem tanam paksa berangkat dari asumsi bahwa desa-desa di Jawa berutang sewa tanah kepada pemerintah, yang biasanya diperhitungkan senilai 40% dari hasil panen utama desa yang bersangkutan dan menyisihkan sebagian hari kerja untuk bekerja bagi pemerintah. Dengan mengikuti tanam paksa, desa akan mampu melunasi utang pajak tanahnya.
·                 Bagi pemerintah kolonial Hindia Belanda, sistem ini berhasil luar biasa. Karena antara 1831-1871 Batavia tidak hanya bisa membangun sendiri, melainkan punya hasil bersih 823 juta gulden untuk kas di Kerajaan Belanda.
·                      Akibat tanam paksa ini, produksi beras semakin berkurang, dan harganya pun melambung. Pada tahun 1843, muncul bencana kelaparan di Cirebon, Jawa Barat. Kelaparan juga melanda Jawa Tengah, tahun 1850.
·                      Sistem tanam paksa yang kejam ini, setelah mendapat protes keras dari berbagai kalangan di Belanda, akhirnya dihapus pada tahun 1870, meskipun untuk tanaman kopi di luar Jawa masih terus berlangsung sampai 1915. Program yang dijalankan untuk menggantinya adalah sistem sewa tanah dalam UU Agraria 1870.
Dampak Sistem Tanam Paksa:
·                     Dampak terhadap bidang pertanian:
Cultuurstelsel menandai dimulainya penanaman tanaman komoditi pendatang di Indonesia secara luas. Kopi dan teh, yang semula hanya ditanam untuk kepentingan keindahan taman mulai dikembangkan secara luas. Tebu, yang merupakan tanaman asli, menjadi populer pula setelah sebelumnya, pada masa VOC, perkebunan hanya berkisar pada tanaman "tradisional" penghasil rempah-rempah seperti lada, pala, dan cengkeh. Kepentingan peningkatan hasil dan kelaparan yang melanda Jawa akibat merosotnya produksi beras meningkatkan kesadaran pemerintah koloni akan perlunya penelitian untuk meningkatkan hasil komoditi pertanian, dan secara umum peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pertanian. Walaupun demikian, baru setelah pelaksanaan UU Agraria 1870 kegiatan penelitian pertanian dilakukan secara serius.

·                     Dalam bidang sosial:
                        Dalam bidang pertanian, khususnya dalam struktur agraris tidak mengakibatkan adanya perbedaan antara majikan dan petani kecil penggarap sebagai budak, melainkan terjadinya homogenitas sosial dan ekonomi yang berprinsip pada pemerataan dalam pembagian tanah. Ikatan antara penduduk dan desanya semakin kuat hal ini malahan menghambat perkembangan desa itu sendiri. Hal ini terjadi karena penduduk lebih senang tinggal di desanya, mengakibatkan terjadinya keterbelakangan dan kurangnya wawasan untuk perkembangan kehidupan penduduknya.

·                     Dampak Bidang Ekonomi:
Dengan adanya tanam paksa tersebut menyebabkan pekerja mengenal sistem upah yang sebelumnya tidak dikenal oleh penduduk, mereka lebih mengutamakan sistem kerjasama dan gotong royong terutama tampak di kota-kota pelabuhan maupun di pabrik-pabrik gula. Dalam pelaksanaan tanam paksa, penduduk desa diharuskan menyerahkan sebagian tanah pertaniannya untuk ditanami tanaman eksport, sehingga banyak terjadi sewa menyewa tanah milik penduduk dengan pemerintah kolonial secara paksa. Dengan demikian hasil produksi tanaman eksport bertambah,mengakibatkan perkebunan-perkebunan swasta tergiur untuk ikut menguasai pertanian di Indonesia di kemudian hari.
            Akibat lain dari adanya tanam paksa ini adalah timbulnya “kerja rodi” yaitu suatu kerja paksa bagi penduduk tanpa diberi upah yang layak, menyebabkan bertambahnya kesengsaraan bagi pekerja. Kerja rodi oleh pemerintah kolonial berupa pembangunan-pembangunan seperti; jalan-jalan raya, jembatan, waduk, rumah-rumah pesanggrahan untuk pegawai pemerintah kolonial, dan benteng-benteng untuk tentara kolonial. Di samping itu, penduduk desa se tempat diwajibkan memelihara dan mengurus gedung-gedung pemerintah, mengangkut surat-surat, barang-barang dan sebagainya. Dengan demikian penduduk dikerahkan melakukan berbagai macam pekerjaan untuk kepentingan pribadi pegawai-pegawai kolonial dan kepala-kepala desa itu sendiri.

Sistem Ekonomi Kapitalis Liberal
Sistem ekonomi liberal kapitalis adalah sitem ekonomi yang aset-aset produktif dan faktor-faktor produksinya sebagian besar dimiliki oleh sektor individu/swasta. Sementara tujuan utama kegiatan produksi adalah menjual untuk memperoleh laba. Sistem perekonomian liberal kapitalis merupakan sistem perekonomian yang memberikan kebebasan kepada setiap orang untuk melaksanakan kegiatan perekonomian seperti memproduksi barang, menjual barang, menyalurkan barang, dsb.

Ciri-Ciri Sistem Ekonomi Kapitalis Liberal:
·                      Masyarakat diberi kebebasan dalam memiliki sumber-sumber produksi.
·                      Pemerintah tidak ikut campur tangan secara langsung dalam kegiatan ekonomi.
·                  Masyarakat terbagi menjadi dua golongan, yaitu golongan pemilik sumber daya produksi dan masyarakat pekerja (buruh).
·                      Timbul persaingan dalam masyarakat, terutama dalam mencari keuntungan.
·                      Kegiatan selalu mempertimbangkan keadaan pasar.
·                      Pasar merupakan dasar setiap tindakan ekonom.
·                      Biasanya barang-barang produksi yang dihasilkan bermutu tinggi.

Keuntungan Sistem Ekonomi Kapitalis Liberal:

  1. ·               .  Menumbuhkan inisiatif dan kerasi masyarakat dalam kegiatan ekonomi, karena masyarakat      tidak perlu lagi menunggu perintah dari pemerintahan
  2.          Setiap individu bebas memiliki untuk sumber-sumber daya produksi, yang nantinya akan      mendorong partisipasi masyarakat dalam perekonomian
  3.              Timbul persaingan semangat untuk maju dari masyarakat
  4.       Mengahsilkan barang-barang bermutu tinggi, karena adanya persaingan semangat antar    masyarakat
  5.       Efisiensi dan efektifitas tinggi, karena setiap tindakan ekonomi didasarkan motif mencari keuntungan.

Sistem Ekonomi Era atau Masa Pendudukan Jepang
Awal mula masa pendudukan Jepang:
·                      Masa pendudukan Jepang di Indonesia dimulai pada tahun 1942 dan berakhir pada tanggal 17 Agustus 1945 seiring dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno dan M. Hatta atas nama bangsa Indonesia.
·                      Pada Mei 1940, awal Perang Dunia II, Belanda diduduki oleh Jerman Nazi. Hindia Belanda mengumumkan keadaan siaga dan pada Juli mengalihkan ekspor untuk Jepang ke Amerika Serikat dan Inggris. Negosiasi dengan Jepang yang bertujuan untuk mengamankan persediaan bahan bakar pesawat gagal pada Juni 1941, dan Jepang memulai penaklukan Asia Tenggara di bulan Desember tahun itu. Pada bulan yang sama, faksi dari Sumatra menerima bantuan Jepang untuk mengadakan revolusi terhadap pemerintahan Belanda.
·                      Pasukan Belanda yang terakhir dikalahkan Jepang pada Maret 1942. Pengalaman dari penguasaan Jepang di Indonesia sangat bervariasi, tergantung di mana seseorang hidup dan status sosial orang tersebut. Bagi yang tinggal di daerah yang dianggap penting dalam peperangan, mereka mengalami siksaan, terlibat perbudakan seks, penahanan sembarang dan hukuman mati, dan kejahatan perang lainnya. Orang Belanda dan campuran Indonesia-Belanda merupakan target sasaran dalam penguasaan Jepang.

Dampak Ekonomi di Era Pendudukan Jepang:
·                      Kegiatan ekonomi diarahkan untuk kepentingan perang maka seluruh potensi sumber daya alam dan bahan mentah digunakan untuk industri yang mendukung mesin perang. Jepang menyita seluruh hasil perkebunan, pabrik, Bank dan perusahaan penting. Banyak lahan pertanian yang terbengkelai akibat titik berat kebijakan difokuskan pada ekonomi dan industri perang. Kondisi tersebut menyebabkan produksi pangan menurun dan kelaparan serta kemiskinan meningkat drastis.
·                      Didirikannya kumyai yaitu koperasi yang bertujuan untuk kepentingan bersama.
·              Menerapkan sistem ekonomi perang dan sistem autarki (memenuhi kebutuhan daerah sendiri dan menunjang kegiatan perang). Konsekuensinya tugas rakyat beserta semua kekayaan dikorbankan untuk kepentingan perang. Hal ini jelas amat menyengsarakan rakyat baik fisik maupun material.
·                      Jepang menerapkan sistem pengawasan ekonomi secara ketat dengan sanksi pelanggaran yang sangat berat. Pengawasan tersebut diterapkan pada penggunaan dan peredaran sisa-sisa persediaan barang. Pengendalian harga untuk mencegah meningkatnya harga barang. Pengawasan perkebunan teh, kopi, karet, tebu dan sekaligus memonopoli penjualannya. Pembatasan teh, kopi dan tembakau, karena tidak langsung berkaitan dengan kebutuhan perang. Monopoli tebu dan gula, pemaksaan menanam pohon.

Sejarah perekonomian Indonesia dibagi menjadi beberapa periode yakni :
  1. Pemerintahan Orde Lama (1950-1996) 
a. Masa Pasca Kemerdekaan (1945-1950) Dikarenakannya baru menjadi sebuah Negara keadaan ekonomi keuangan pada masa awal Indonesia merdeka amat sangat buruk disebabkan oleh inflasi dan beredarnya lebih dari satu mata uang secara tidak terkendali.  Sebelum merdeka Indonesia memakai uang Negara jepang. Maka dari itu pada oktober 1946 pemerintah mengeluarkan ORI (Oeang Republik Indonesia). Akan tetapi karena belanda memblokade ekonomi dunia dengan menutup pintu perdagangan luar negeri mengakibadkan kekosongan kas Negara.
b. Masa demokrasi liberal (1950-1957) Mekipun sudah  lama merdeka tapi perekonomian Indonesia masih belum juga memperlihatkan sebuah kemajuann yang signifikan dikarenakan pengusaha pribumi masih belum dapat bersaing dengan pengusaha non pribumi. Yang akhirnya memperburuk kondisi perekonomian Indonesia.
c. Masa Demokrasi Terpimpin (1959-1967) Indonesia belum bisa mempelajari kondisi perekonomian Negara nya sehingga lagi lagi sistem baru (sistem demokrasi terpimpin) pun belum mampu memperbaiki keadaan perekonomian Indonesia sehingga Indonesia mengalami devaluasi atau nilai mata uang dan simpanan kas Negara dibekukan, serta kegagalan dalam berbagai tindakan moneter

  1. Pemerintahan Orde Baru (1966-Mei 1998)
Pada awal pemerintahan orde baru, pemerintah mempunyai kebijakan prioritas utama yaitu stabilitas ekonomi dan politik. Dikarenakan pada awal kemerdekaan tersangkut masalah inflasi maka pada masa orde baru pemerintah berorientasi pada pengendalian inflasi, penyelamatan keuangan Negara, dan pengamanan kebutuhan pokok rakyat.

  1. Pemerintahan Transisi (Mei 1998-November 1999) 
  1. Pemerintahan Reformasi hingga Kabinet SBY (2000 – sekarang)

ANALISIS PEREKONOMIAN INDONESIA

Sistem perkonomian adalah sistem yang digunakan oleh suatu negara untuk mengalokasikan sumber daya yang dimilikinya baik kepada individu maupun organisasi di negara tersebut. Perbedaan mendasar antara sebuah sistem ekonomi dengan sistem ekonomi lainnya adalah bagaimana cara sistem itu mengatur faktor produksinya. Dalam beberapa sistem, seorang individu boleh memiliki semua faktor produksi. Sementara dalam sistem lainnya, semua faktor tersebut di pegang oleh pemerintah. Kebanyakan sistem ekonomi di dunia berada di antara dua sistem ekstrim tersebut.

Sistem perekonomian yang ada di indonesia ini mungkin masih kurang baik, ditambah lagi dengan penanggulangan yang buruk, berbeda dengan dengan sistem perekonomian di negara berkembang lainnya. Indonesia merupakan negara berkembang yang perkembangannya sangat tidak signifikan dan cenderung lambat. sehingga sulit meliat kemajuan bangsa Indonesia itu sendiri di bidang-bidang penting seperti Ekonomi, Pembangunan, Pertambangan, dan lain sebagainya.

Menurut saya sistem perekonomian yang dianut Bangsa Indonesia saat ini, sudah saatnya diganti dengan sistem perekonomian nasional, karena tidak mampu lagi memenuhi tuntutan dan kesejahteraan rakyatnya.
Salah satu penyebab kemiskinan yang terus melanda masyarakat Indonesia dari satu periode ke periode berikutnya, karena sistem ekonomi itu sudah tidak mampu lagi menyahuti tuntutan kesejahteraan, kemakmuran, keadilan dan sosial ekonomi masyarakat.
Korupsi yang sekarang ini tengah merajalela di kalangan pejabat Indonesia harus ditindak lanjuti sesuai dengan hukum yang berlaku. Dan semua ini terjadi karena Sistem Perekonomian Indonesia yang sangat buruk dan amburadul, terlalu banyak fiktif dan ketidak transparan.

untuk itu saya pribadi menginginkan Sistem Perekonomian yang baik bagi Bangsa Idonesia, agara dapat mensejahterakan masyarakat khususnya diwilayah-wilayah yang masih belum tersentuh perbaikan perekonomian.

DAFTAR PUSAKA